Calon Gubernur Pun Berebut Air Berkah

Written By Unknown on Senin, 11 Maret 2013 | 12.14

Oleh Teuku M Guci Syaifudin

SITI

Mariam (52), seorang warga Kota Bandung, sudah berada di kompleks Pondok Pesantren Al Hikmatujin di RT 03/RW 05 Kampung Duren, Desa Mulyasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, sejak Jumat (8/3).

Siti, yang datang menggunakan mobil, menantikan puncak acara haul dari Kiai Haji (KH) Abdul Wajin bin Mursalin selaku pemimpin pondok pesantren yang saat ini dipimpin oleh anaknya sendiri, yakni KH Abah Jin.

Di acara puncak, Siti, yang berangkat bersama dengan seorang lurah di Kota Bandung, ingin mendapatkan berkah dari air yang dipanjatkan doa selama tiga hari tiga malam secara bersama-sama.

Tidak hanya Siti, ribuan warga setempat dan warga dari berbagai daerah di Indonesia juga memadati kompleks pondok pesantren tersebut.

Namun memang tak semuanya menginap di pondok pesantren tersebut selama tiga hari. Sebab, ada yang baru datang Sabtu (9/3) sore lantaran hanya ingin mengikuti acara puncaknya. Itu sebabnya halaman pondok pesantren sudah dipenuhi banyak orang menjelang azan Magrib berkumandang.

Acara puncak baru dimulai setelah salat Isya secara berjemaah di pondok pesantren tersebut atau tepatnya pukul 21.00. Pemimpin pondok, KH Abah Jin, keluar dari aula pondok pesantren untuk memimpin tawasul di depan makam para leluhur pondok pesantren.

Di samping makam itu berjejer botol-botol kemasan yang berisi air putih. Ada pula air yang terbungkus di dalam plastik putih. Di tengah-tengah makam ada sebuah ember berisikan air yang sudah bercampur dengan bunga melati dan mawar.

Diawali dengan membaca selawat dan berbagai doa lainnya, masyarakat yang hadir terlihat begitu sabar menunggu. Mereka pun berupaya melawan kantuk agar tetap bisa mendengarkan nasihat dari pemimpin pondok yang duduk di atas panggung di depan makam. Doa dan nasihat agama terus dipanjatkan sampai hari pun berubah menjadi Minggu (10/3).

Tepat pukul 01.00 dini hari, pembacaan doa ribuan warga yang sejak sore memadati kompleks makam ini pun usai. Tak pelak masyarakat yang sudah menantikan pembagian air itu pun perlahan-lahan merangsek ke arah makam tersebut. Mereka tak mau kehabisan jatah air berkah yang telah didoakan secara bersama-sama itu selama tiga hari itu.

Indah (39), warga RT 05/RW 07 Kampung Bojongmenteng, Desa Lawanglungku, Kecamatan Bekasi Timur, Kabupaten Bekasi, misalnya, harus rela berimpitan dengan ribuan orang yang juga merangsek masuk ke dalam makam.

Namun jerih payahnya itu berhasil membawa pulang air berkah yang dituangkan dalam botol kemasan meski harus sempat terjatuh sehingga tangannya lecet.

Perempuan ini pun mengaku memang rutin setiap tahun mengikuti tawasul yang diselenggarakan di pondok pesantren tersebut. Kedatangannya tak lain untuk memperoleh air berkah tersebut. Menurut dia, air itu mampu menyembuhkan beberapa macam penyakit, termasuk katarak dan sakit pinggang.

"Karena itu saya dari jam 9 pagi sudah sampai sini bersama rombongan sebanyak 20 mobil dari Bekasi," ujar Indah.

Saeful Muklis (48), warga Bengkulu, datang jauh-jauh untuk meminta rida dari Tuhan. Pria yang baru pertama kali mengikuti haul di pondok tersebut ini mengaku ingin mengubah nasib masyarakat di  wilayahnya.

"Insya Allah, saya memiliki keinginan untuk menjadi calon gubernur Bengkulu periode berikutnya," ujar pria yang bekerja sebagai kontraktor swasta di Bengkulu tersebut di sela-sela berebut air berkah.

KH Abah Jin mengatakan tawasul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik maupun melalui orang saleh yang dianggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah.

Selain itu, tradisi ini memiliki makna filosofis membersihkan diri dan hati dari berbagai macam hal atau perilaku yang dianggap tidak baik oleh norma yang berlaku di masyarakat.

"Sebagai orang Islam, doa adalah senjata paling ampuh. Jadi ini bukan musyrik seperi menyembah setan atau meminta sesuatu selain kepada Allah," ujar pria yang akrab disapa Abah ini kepada wartawan,  seusai tawasul, Minggu (10/3) dini hari.

Abah pun mengatakan, tawasul ini dilakukan tidak hanya sekali dalam setahun, tetapi setiap Jumat. Hanya saja, tawasul kemarin merupakan satu rangkaian acara puncak dari haul pemilik pondok tersebut. Karena itu, peserta tawasul dari berbagai daerah memadati komplek pondoks pesantren seluas 5 hektare tersebut.

"Acara ini juga dimaksudkan untuk mendoakan keselamatan negara Republik Indonesia yang semakin ke sini semakin kacau keadaannya, banyak kerusuhan di mana-mana, baik antaraparat maupun antarwarga. Karena itu, dengan doa ribuan warga yang menghadiri haul selama tiga hari ini, diharapkan ada perbaikan untuk Indonesia pada umumnya," ujar Abah.

Tak hanya berdoa, kata Abah, haul itu juga membersihkan beberapa benda pusaka dengan air yang sudah didoakan tiga hari berturut-turut bercampur dengan bunga mawar dan melati. Adapun benda pusaka itu dibawa masyarakat dari tempat tinggalnya.

"Kami hanya membersihkan benda-benda pusaka ini. Tapi memang air bekas cuciannya ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk tujuan khusus. Biasanya juga dicampur dengan air berkah yang dipercaya menambah khasiatnya," ujar Abah. (*)


Anda sedang membaca artikel tentang

Calon Gubernur Pun Berebut Air Berkah

Dengan url

http://jabarsajalah.blogspot.com/2013/03/calon-gubernur-pun-berebut-air-berkah.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Calon Gubernur Pun Berebut Air Berkah

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Calon Gubernur Pun Berebut Air Berkah

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger