Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Semua Wilayah di Jabar Bakal Diguyur Hujan Sedang

Written By Unknown on Rabu, 13 Februari 2013 | 12.14

Rabu, 13 Februari 2013 11:40 WIB

BANDUNG, TRIBUN - Hujan intensitas sedang antara  5,0 - 10,0 mm/jam atau 20 - 50 mm/hari ini diprakirakan bakal mengguyur semua wilayah di Jawa Barat (Jabar), Rabu (13/2). Bagi Anda yang hendak bepergian, tentu sudah mempersiapkan diri agar tidak kehujanan dan tetap beraktivitas tanpa halangan yang berarti. 

Khusus wilayah ibukota provinsi Jabar, Kota Bandung, selain bakal diguyur hujan sedang juga diikuti oleh kecepatan angin yang berhembus berkisar 20 kilometer per jam dari arah Barat Daya.

Selain itu, suhu udara yang terjadi pada hari ini berkisar 20 - 28 derajat celsius dan kelembapan 60 - 97 persen. Prakiraan cuaca  berlangsung mulai hari ini, pukul 07.00 hingga Kamis (14/2), pukul 07.00.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui situs resmi, www.bmkg.go.id memprakirakan wilayah-wilayah yang mengalami hujan sedang selain di Bandung, adalah Soreang, Depok, Cisaat, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Pelabuhan Ratu, Cibinong, Tasikmalaya, Cimahi, Ngamprah, Subang,  Majalengka, Singaparna, Garut, Ciamis, Indramayu, Karawang, Cikarang, Cirebon, Bekasi, Banjar, Kuningan, Sumber, dan Cianjur.

Untuk keperluan 'perencanaan' dalam kegiatan operasional, agar kembali menghubungi BMKG (Unit kerja: Pusat Meteorologi Publik - Informasi Meteorologi Publik sebagai antisipasi perubahan/updating dari prakiraan mingguan) ke nomor telepon: 021- 4246321. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Lembar Jawaban UN Akan Diberi 'Barcode'

Rabu, 13 Februari 2013 11:45 WIB

DEPOK, TRIBUN - Persoalan kebocoran soal  Ujian Nasional (UN) menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam penyelenggaraan UN selanjutnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemdikbud mengeluarkan format baru untuk naskah soal dan lembar jawaban UN 2013.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Khairil Anwar Notodiputro, mengatakan bahwa tahun ini naskah soal dan lembar jawaban UN dibuat menjadi satu kesatuan sehingga pembagiannya tidak dilakukan terpisah seperti pada pelaksanaan UN sebelumnya.

"Tahun ini, antara naskah soal dengan lembar jawaban tidak terpisah seperti biasa. Kalau dipisah malah petaka, karena jawaban anak bisa jadi tidak sesuai antara soal dan lembar jawaban UN," kata Khairil saat Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2013 di Pusat Pengembangan Tenaga Pendidikan di Depok, Selasa (12/2/2013).

Ia juga mengingatkan jika ada lembar jawaban yang rusak dan minta penggantian maka naskah soalnya juga harus diganti begitupula sebaliknya. Dengan demikian, potensi rumor kecurangan pada UN melalui cara memasukkan kode soal secara acak tidak lagi dapat dilakukan.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli, membenarkan format baru ini. Bahkan pada lembar jawaban UN tertera barcode yang mengindikasikan kode naskah soal UN. Nantinya barcode ini akan dipindai oleh alat tertentu saat jawaban UN dikoreksi.

"Jadi tidak perlu lagi siswa memasukkan kode naskah soal karena sudah ada barcode itu," ujar Ramli.

"Jika mau curang dengan menukar lembar jawaban maka saat dikoreksi jawabannya tidak akan sesuai dengan soal karena ada barcode itu," tandasnya.

Selain penggunaan barcode dan penyatuan naskah soal dengan lembar jawaban UN, Kemdikbud juga menyiapkan 20 variasi soal pada UN tahun ini sehingga anak-anak bisa berkonsentrasi pada soalnya masing-masing tanpa perlu melihat pekerjaan temannya. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Brownies Berbahan Gaplek Terasa Lebih "Nyakial"

Rabu, 13 Februari 2013 11:50 WIB

SIAPA tak kenal brownies? Cake cokelat yang bantat itu memiliki rasa manis dan legit. Umumnya brownies menggunakan tepung terigu, tapi tidak demikian yang dibuat Eppy Winaningsih. Ibu dua anak itu membuat brownies dengan tepung singkong atau gaplek.

Eppy mengatakan, tidak ada yang beda dengan brownies dari tepung gaplek ini. Semua bahan sama seperti brownies pada umumnya. Hanya tepung yang digunakan yang menjadi pembeda. "Yang biasa pakai terigu, kalau ini pakai gaplek," katanya, saat ditemui di rumah produksi, Jalan Cibatu Raya No 27, Antapani, Bandung, Rabu (13/2).

Karena menggunakan tepung gaplek, tekstur brownies lebih "nyakial" saat dikunyah. Rasa manisnya juga pas, tidak seperti brownies yang banyak di pasaran.

Brownies dari tepung gaplek yang diberi merek Aura ini dibuat dengan cara dipanggang. Ada enam macam topping yang digunakan yakni moka, almond, keju, kacang, choco chip, dan campuran keju, almond dan mete. Satu loyang brownies gaplek ukuran kecil dijual Rp 22.000, dan ukuran besar Rp 34.000.

Saat ini, brownies gaplek Aura dijual dengan cara dititipkan di sejumlah toko. Eppy belum memiliki outlet khusus untuk brownies gaplek yang mulai dibuat sejak dua bulan lalu tersebut. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Gambar Cagub di Pohon-pohon

Rabu, 13 Februari 2013 11:54 WIB

* Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

ENTAH

kapan orang-orang itu melakukannya. Tapi yang pasti, gambar-gambar para calon gubernur dan wakilnya itu tiba-tiba saja sudah tertancap di pohon-pohon peneduh di sejumlah ruas jalan. Pakunya besar-besar, seperti yang tampak di Jalan Pandanwangi, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, beberapa pekan ini.

Tentu saja, bukan hanya di Jalan Pandanwangi foto-foto sejenis terlihat. Di beberapa ruas jalan, pemandangan serupa juga kerap terlihat. Tak hanya di jalan-jalan kompleks yang kerap luput dari pantauan petugas, tapi juga di Jalan Soekarno Hatta, meski hanya beberapa saja. Padahal, jujur saja, sekalipun murah dan tentu saja mudah, kampanye seperti ini sudah tak efektif lagi, karena warga sudah lebih mengerti dan lebih sadar akan lingkungan, dan mereka tahu bahwa memaku pohon itu keterlaluan.

Jalan Pandanwangi sendiri bukanlah jalan menuju hutan belantaran atau perkebunan sawit sekalipun kerusakannya sudah sangat parah. Jalan yang di beberapa titiknya mirip kubangan kerbau ini adalah utama menuju sejumlah kompleks besar di kawasan sebelah timur Kabupaten Bandung. Itu sebabnya, barangkali, pemasangan gambar para calon di lokasi ini dianggap efektif mendongkrak perolehan suara, karena sekalipun jalannya jelek dan tanpa lampu penerang jalan, jalan ini adalah jalan yang ramai dilewati warga setiap harinya.

Tapi, mari sebentar saja, kita coba berpikir dengan cara berbeda, seperti cara berpikir para pengendara ketika mau tak mau harus melewati ruas jalan yang rusak ini setiap harinya. Boro-boro memperhatikan gambar para calon yang dipaku di pohon-pohon, untuk memilih jalan yang agak aman saja agar tak terjatuh, betapa sulitnya, begitu repotnya. Katakanlah, Anda bernasib buruk, mobil Anda selip, atau sepeda motor Anda terjatuh di jalan jelek itu, senyuman para calon di gambargambar yang ditancapkan di pohon-pohon itu akan terasa begitu menyebalkan. Cara kampanye keliru? Saya kira iya.

Cara kampanye lain yang tampaknya juga harus mulai dievaluasi kembali oleh para tim sukses calon kepala daerah adalah memasang baliho-baliho besar dengan hanya berpenopang bambu, yang tentu saja akan sulit bertahan ketika angin besar bertiup seperti yang belakangan ini kerap terjadi. Jika baliho-baliho yang "tidak aman" ini diletakkan di median jalan yang ramai seperti yang terlihat di Jalan Soekarno Hatta akhir-akhir ini, jelas bahayanya akan semakin besar. Dan, sekali lagi, jangan menganggap warga Jabar tak mengerti dengan bahaya seperti ini. Sekarang, mungkin belum ada pengendara yang celaka karena tertimpa baliho-baliho "bambu" yang roboh. Tapi, kenapa harus menunggu jika bisa mencegah?

Masa kampanye Pilgub Jabar sendiri masih tersisa lebih dari sepekan sebelum masa tenang datang, 20 Februari nanti. Masih ada waktu untuk merebut simpati dengan melakukan hal-hal yang benar. Sebab, apa yang bisa kita harapkan dari pemimpin yang saat berkampanye saja sudah berbuat hal yang tidak baik.

Jangan memilih para cagub yang gambarnya dipaku di pohonpohon. Tapi siapa? Mudah-mudahan ada perubahan. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Dede Yusuf Ngamen di Pasar Indramayu

Rabu, 13 Februari 2013 11:59 WIB

INDRAMAYU, TRIBUN - Cagub Jabar Dede Yusuf pada  kampanye hari kelima mengisinya dengan kegiatan mengamen di Pasar Jatibarang, Indramayu, Rabu (13/2).

Saat menyapa pedagang dan pembeli di Pasar Jatibarang, Dede bertemu dengan seorang pengamen di pasar tersebut. Saat itulah, mantan aktor laga ini, ikut bernyanyi dangdut bersama pengamen bernama Iyut (30) melantunkan lagu 'Menunggu' ciptaan Rhoma Irama.

Suasana pasar semakin riuh, Dede bersama pengunjung ikut berjoget. Bahkan seorang ibu yang sudah sepuh ikut berjoget riang.

Hari ini kegiatan kampanye Dede Yusuf digela di Indramayu dan Cirebon. Selain mengunjungi pasar, Dede juga akan bersilaturahmi dengan kyai NU dan struktural PKB se Indramayu di kampus hijau.


Sedangkan di Cirebon Dede akan menyapa pedagang Pasar Arjawinangun dan berdialog dengan pedagang dan komunitas Tionghoa. Juga pemberian bantuan untuk Masjid Nurul Janah Suranenggala. (*)

12.14 | 0 komentar | Read More

Marzuki Alie: Tenaga Ahli DPR Main Anggaran, Pecat!

Rabu, 13 Februari 2013 12:02 WIB

JAKARTA, TRIBUN - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menilai laporan yang diterima Badan Kehormatan terkait penyelewenangan dana bencana alam di Kabupaten Cianjur bisa saja dilakukan oleh tenaga ahli, bukan anggota dewan. Ia pun mendesak agar tenaga ahli yang ketahuan bermain anggaran untuk dipecat.

"Belum tentu (anggota dewan). Kadang-kadang tenaga ahlinya main sendiri. Makanya kami suka hati-hati. Kalau ketahuan, pecat saja," ujar Marzuki, Rabu (13/2/2013), di Gedung Kompleks Parlemen Senayan.

Marzuki mengaku pernah mendengar adanya tenaga ahli yang bermain. Pasalnya, banyak cara yang dilakukan pihak luar untuk memuluskan niatnya. Salah satunya adalah dengan mendekati staf ahli seorang anggota dewan.

"Ada yang memanfaatkan tenaga ahli, ada yang jalan sendiri. Orang kan banyak akalnya lah," imbuhnya.

Sebelumnya, Muhammad Sukarya, mantan pejabat Cianjur melaporkan kasus dugaan penyelewengan dana bencana Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ke Badan Kehormatan. Sukarya mengaku sempat memberikan uang sebesar Rp 1,5 miliar kepada Haris Hartoyo yang merupakan tenaga ahli Supomo, anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat.

Uang pelincin itu diperkirakan mengalir pula ke anggota Komisi VIII Radityo Gambiro melalui stafnya, Herdian Aryanto. Komisi VIII tempat memang menangani persoalan dana bantuan bencana. Namun, hal ini dibantah Radityo yang mengaku tidak tahu menahu soal perkara ini.

"Saya tidak nyambung tentang itu. Saya tak paham. Biarin saja, kalau memang masalah, biarkan diproses saja," kata Radityo.

Ia menuturkan bahwa dirinya hanya mendapat laporan dari tenaga ahlinya yang mendapat panggilan dari BK. "Katanya ini ada yang laporkan dia (staf ahli Radityo) ke BK. Saya tanya siapa? Dia bilang dilaporin tenaga ahli lain. Saya bilang hadapi saja," ungkapnya.  (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

1,2 Juta Warga Bandung Sudah Terekam e-KTP

Written By Unknown on Selasa, 12 Februari 2013 | 12.14

Selasa, 12 Februari 2013 11:31 WIB

BANDUNG, TRIBUN - Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Kadisdukcapil) Meivy Adha mengatakan, jumlah penduduk Kota Bandung tercatat hingga 5 Februari 2013 mencapai 2,8 juta jiwa.

"Warga yang wajib memiliki e-KTP di Kota Bandung berjumlah 2,1 juta jiwa, dan sudah terekam data e-KTP sebanyak 1,2 juta jiwa," ujar Meivy saat launching e-KTP di Kecamatan Bandung Kidul,  Kota Bandung, Selasa (12/2).

Menurut Meivy, sisanya sekitar 800 jiwa belum terekam E-KTP karena beberapa alasan, di antaranya  warga itu berada di luar negeri, kerja di luar Kota Bandung dan ada angka kematian warga yang tidak tercatat.

Ia mengatakan,  e-KTP akan bertahap didistribusikan dari pemerintah pusat ke seluruh kecamatan di Kota Bandung yang memiliki 30 kecamatan, dan 151 kelurahan. "Warga bisa mengambil e-KTP di kantor kelurahan. Syaratnya menyerahkan KTP lama," ujar Meivy. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Ini Daftar Belanjaan Dede Yusuf di Pasar Cikarang

Selasa, 12 Februari 2013 11:40 WIB

BANDUNG, TRIBUN - Calon Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf Macan Effendi, merampungkan kunjungannya ke Pasar Cikarang, Kabupaten Bekasi, sebagai bagian dalam masa kampanye Pilkada Jabar, Selasa (12/2/2013). Disana, dia sempat berbelanja daging sapi dan ubi.

"Kami belanja daging sapi tiga kilo dan ubi tiga kilo," ujar Dede Yusuf dan Lex Laksamana Zainal Lan serempak.

Saat menyebut "tiga" keduanya mengangkat tangannya dan menunjukkan tiga jari kepada wartawan yang mengerubungi mereka. Pasar Cikarang adalah titik pertama kunjungan mereka selama berkampanye di Bekasi.

Dede mengatakan bahwa dia mendapatkan masukan dari para pedagang mengenai kondisi pasar yang kotor dan becek. Mereka mengharapkan agar ada upaya penataan pasar yang serius dari pemerintah.

Usul tersebut disambut baik Dede dan Lex. Mereka mengatakan bahwa program penataan memang dimungkinkan dengan menggandeng Kementerian Perdagangan.

Hingga berita diturunkan, Dede dan Lex tengah memasuki pasar modern Sentra Grosir Cikarang. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Belajar Sejarah di Galeri Tionghoa

Selasa, 12 Februari 2013 11:55 WIB

Oleh Ida Romlah

DERETAN

foto sejumlah tokoh Tionghoa menjadi semacam ucapan selamat datang bagi pengunjung Galeri Etnis Tionghoa di Graha Surya Priangan, Jalan Nana Rohana, Holis, Kota Bandung. Foto-foto itu dilengkapi dengan tulisan berisi keterangan siapa tokoh tersebut dan apa karya yang telah dibuatnya.

Sebut saja pemain sepak bola nasional Tan Liong Houw atau Latief Harris Tanoto. Pria kelahiran Surabaya, 26 Juli 1930, itu ikut diperkenalkan di Galeri Etnis Tionghoa. Ia merupakan tokoh persepakbolaan Indonesia yang berasal dari etnis Tionghoa.

Pada era 1950-an, Tan Liong Houw diikenal sebagai pemain lini tengah yang keras dan ditakuti lawan. Posisinya sebagai gelandang kiri mengharuskan Liong Houw bermain keras untuk merusak formasi lawan.

Selain Liong Houw, ada pula pemain sepak bola lain bernama Fan Tek Fong atau Hadi Mulyadi. Pria kelahiran Serang, 19 September 1943, itu merupakan bintang timnas Indonesia era 1960-an dan 1970-an.

Selain atlet sepak bola, ada pula atlet bulu tangkis Indonesia pada era 1960-an, Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara. Atlet kelahiran Bandung, 11 Agustus 1937, itu adalah putra Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali emas Asian Games. Bersama enam pebulu tangkis lainnya, Joe Hok juga merebut Piala Thomas untuk pertama kalinya. Pada masanya, Tan Joe Hok punya nama besar sebagai atlet bulu tangkis kebanggaan Indonesia.

Memasuki bagian tengah galeri, ada tokoh Tionghoa yang bergerak di bidang arsitektur, kedokteran, dan menteri dalam pemerintahan. Satu di antara foto menteri itu adalah mantan Menteri Perdagangan yang kini menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu. Bahkan foto Marie Elka berukuran lebih besar dari foto-foto tokoh lain, lengkap dengan keterangan siapa dia.

Di bagian sudut lain terdapat alat makan berupa sumpit yang juga ikut dipamerkan. Kesenian tradisional barongsai juga ada, malah kebaya Cina juga ikut dipamerkan. Bahkan empat unsur alam, yakni tanah, air, api, dan kayu, juga ikut dibahas panjang-lebar di galeri. "Semua tentang sejarah Tionghoa ada di sini," ujar putri perintis Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) Surya Widjaja, Tjutju Widjaja, saat ditemui di Galeri Etnis Tionghoa, Kamis (7/2).

YDSP merupakan yayasan yang memayungi berdirinya Galeri Etnis Tionghoa. Berdiri sejak 1975, yang bermula dari rumah duka. Oleh masyarakat, rumah duka tersebut dikenal dengan nama Rumah Duka Nana Rohana karena berada di Jalan Nana Rohana. Galeri Etnis Tionghoa sendiri baru beroperasi setahun, terletak di lantai dua sebuah gedung di kawasan Graha Surya Priangan, Jalan Nana Rohana, Holis, Bandung.

Tjutju mengatakan, berdirinya galeri dimaksudkan untuk memberikan pengertian bagi generasi muda dan mendatang tentang sejarah keberadaan dan perjuangan etnis Tionghoa di Indonesia. Sebab, menurut dia, belum banyak tempat atau media yang mengulas asal-usul nenek moyang etnis Tionghoa di Indonesia. Bahkan galeri semacam ini baru ada dua, yakni di Tangerang dan Bandung.

"Galeri ini menyediakan berbagai informasi Tionghoa di Indonesia, mulai sejarah politik, ekonomi, budaya, hingga berbagai tradisi Tionghoa," kata Tjutju, yang juga punya keahlian membuat kaligrafi Cina.

Tjutju mengatakan, selama ini masyarakat Tionghoa selalu dipandang sebagai etnis yang mengeruk ekonomi Indonesia. Padahal, ujarnya, kenyataannya tidak demikian. Menurut Tjutju, masyarakat Tionghoa lahir, dibesarkan, dan meninggal di Indonesia. Bahkan ada sejumlah orang Tionghoa yang juga ikut membela kemerdekaan Indonesia..
 
Minimnya pengetahuan tentang sejarah etnis Tionghoa diakui Tjutju karena selama Orde Baru masyarakat Tionghoa seolah tidak diakui pemerintah. "Untuk beribadah kami harus sembunyi-sembunyi, bahkan nama pun ya tidak boleh pakai nama Tionghoa," katanya. Namun ia bersyukur sekarang di Indonesia tidak demikian. Pemerintah mengakui keberadaan etnis Tionghoa sebagai bagian dari kekayaan negeri ini.

Tjutju berharap ada banyak orang yang mengunjungi Galeri Etnis Tionghoa. Tidak hanya melihat koleksi yang dipamerkan, tapi juga belajar tentang sejarah Tionghoa di Indonesia. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

PAN dan PDS Berkoalisi

Selasa, 12 Februari 2013 12:02 WIB

JAKARTA, TRIBUN - Partai Damai Sejahtera (PDS) berkoalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Pemilihan Umum 2014. Koalisi kedua partai ini terbilang unik,  PDS yang berbasis massa umat Kristen dan PAN yang pada awal berdirinya menyatakan sebagai partai Islam. Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PAN Viva Yoga Mauladi, Selasa (12/2/2013), di Jakarta.

"PAN tidak membedakan agama, suku, etnis, budaya atau jenis kelamin. PAN menghargai pluralitas dan kemanusiaan. Jadi masuknya PDS sesuai dengan platform PAN," ujar Viva.

PDS sendiri tidak lolos dalam verifikasi faktual partai politik peserta Pemilu yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sebelum PDS, kata Viva, PBR juga sudah menggabungkan diri ke PAN secara struktural. Bahkan, kepengurusan PBR di semua tingkat masuk ke struktural PAN mulai dari pusat sampai daerah. Viva juga mengatakan, ada dua partai lain yang akan bergabung yaitu  kemungkinan yang akan bergabung ke PAN lagi adalah Partai Nasional Benteng Kemerdekaan (PNBK) dan Partai Matahari Bangsa (PMB)

"Penggabungan partai ini untuk penyatuan kekuatan politik karena kesamaan perjuangan bersama dalam membangun Indonesia Baru dalam tubuh PAN," kata Viva.

Selain itu, Viva mengungkapkan, dengan koalisi ini, basis konstituen tetap terawat dan dapat menyalurkan aspirasi politiknya ke PAN. "Nantinya dapat menambah perolehan suara PAN di pemilu nanti," kata Viva.  (*)


12.14 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger