Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tandi Skober, Menulis Hingga Akhir Hidup

Written By Unknown on Selasa, 01 Oktober 2013 | 12.14

Oleh Sujarwo

RUANG kerja Tandi Skober mirip sebuah perpustakaan mini. Bedanya, kurang tertata. Pada rak di ruang berukuran sekitar 4x4 meter itu berjajar puluhan buku, umumnya literatur ilmu sosial-budaya, tumpukan kliping koran, tumpukan map berisi naskah skenario film, dan dokumen lainnya. Sebuah lemari berisi ensiklopedia Amerika lengkap, dan buku literatur lainnya. Bahkan, di sebagian lantai pun ada tumpukan buku, majalan, dan koran.

Di sebuah meja di ruang itu ada laptop, ditemani beberapa buku yang letaknya tak beraturan, dan sebuah kursi. Di sinilah Tandi menghabiskan hari-harinya menulis esai dan karya fiksi. "Saya kalau menulis tengah malam hingga dini hari," kata esais Asep Salahudin menirukan ucapan karibnya, Tandi Skober, saat dihubungi Tribun, Senin (30/9) selepas Magrib.

Kemarin siang, sekitar pukul 11.00, ruang kerja di bagian ruang depan sebuah rumah di kompleks Panyileukan, Bandung, itu baru sehari merasakan "kesepian". Di ruang itulah, Minggu (29/9) sekitar pukul 19.30, Tandi terjatuh dari kursi saat menulis dengan posisi badan miring. Istri, anak, dibantu tetangga berusaha menolong dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat, RS Al-Islam.

Namun, sekitar pukul 20.00 Tandi mengembuskan napas terakhir. "Menurut dokter almarhum terkena serangan jantung," kata Ny Budi, tetangga yang tinggal di seberang rumahnya, yang berinisiatif membawa Tandi ke rumah sakit.

Dari rumah sakit, malam itu juga jenazah Tandi dibawa ke rumah duka, setelah disemayamkan di masjid, sekitar 100 meter dari rumah duka. "Karena saat masih hidup Pak Tandi suka cerita kalau meninggal ia ingin disalatkan dulu di masjid. Malam itu banyak temannya datang dan bergiliran salat," kata Ny Budi di rumah duka.

Saat pemakaman, ia dan tiga tetangga lainnya, termasuk dua cucu Tandi, menunggu di rumah duka. Maklum, rumah dalam keadaan kosong karena seluruh keluarga dan kerabat ikut prosesi pemakaman. Tandi Skober, kelahiran Indramayu tahun 1950, dimakamkan di TPU Nagrog, Ujungberung. Pensiunan Departemen Keuangan ini meninggalkan seorang istri, Nuriah Daulay, dan tiga anak, Tanti R Skober, Tanta Skober, dan Tania Skober, serta dua cucu.

Sepulang dari pemakaman, Nuriah datang bersama tiga anaknya. Ia tampak berusaha tegar, menyapa para tamu yang tak sempat mengikuti prosesi pemakaman. Kepada Tribun, Nuriah menuturkan saat- saat terakhir sang suami. Saat suaminya menulis, sekitar pukul 19.00, ia menawarkan makan malam. Namun, Tandi menolak dan hanya minta dibuatkan segelas teh. "Ketika saya ke dapur menyeduh teh itulah Bapak jatuh," ujarnya lirih.

Ketika itu, lanjut Nuriah, suaminya sedang menulis skenario film lepas berjudul Jangan Copet Dompet Wak Haji (JCDWH). "Itu tulisan pesanan Pak Deddy Mizwar (artis dan sutradara yang kini menjabat Wakil Gubernur Jabar). Kata Bapak hampir selesai," kata Nuriah, dibenarkan putranya, Tanta.

Ipon, wartawan yang kemarin datang langsung dari Cirebon ke rumah duka, menambahkan JCDWH adalah film lepas FTV, salah satu produksi SCTV. "Skenario film itu memang pesanan Pak Deddy Mizwar, tapi sutradaranya Dedi Setiadi," kata Ipon, yang pernah ikut diskusi bersama Tandi dan Dedi Setiadi membahas film tersebut.

Di hari-hari terakhirnya, Tandi memang lebih banyak membicarakan skenario JCDWH, film sosial dalam perspektif Indramayu tersebut. Asep Salahudin pun mengakui. Bahkan, ujarnya, Minggu (29/6) pagi ia  sempat diajak ngobrol tentang JCDW. "Selain film tersebut, Minggu pagi itu ia juga bicara rencana bedah bukunya, Manuwara, yang pengantarnya saya," kata Asep.

Somari, tetangga sekaligus teman ngobrol Tandi sehari-hari, mengatakan hal senada. Minggu pagi, ia sempat diajak ngobrol tentang JCDWH. Malahan Tandi berpesan, kalau skenario sudah jadi, Somari akan diajak mengantarnya ke rumah Deddy Mizwar. "Kamu harus ikut aku. Nanti kita ke rumah Pak Deddy naik Nuvo (motor matik produk Yamaha) aja. Ya, siapa tahu kita dikasih biaya umrah," kata Somari menirukan ucapan Tandi.

Selain film JCDWH, di hari-hari terakhirnya, Tandi juga mengucapkan kata-kata isyarat, tapi semula dikira hanya bercanda. Pria tambun yang sehari-hari mengenakan sarung, kaus, dan kopiah ini memang dikenal sederhana, ramah, dan suka ngobrol. Isyarat itu, misalnya, status terakhirnya di Facebook.

"Di status terakhirnya, Pak Tandi menulis, 'Semua tulisan saya dimuat di koran, kok lancar semua. Apa ini pertanda sakaratul maut, ya...'," kata Tatan, anak kedua Tandi yang tinggal di Bogor. Seingat dia, bulan ini ada tujuh tulisan ayahnya yang dimuat di koran berbeda.

Firasat lain, kata Tanta, tiba-tiba sang ayah minta rekeningnya dipindahkan ke rekening ibunya. "Kata Bapak, biar rekening Ibu bertambah banyak, biar lekas bisa naik haji. Semula saya kurang paham, baru sekarang tahu maksudnya," kata bapak dua anak ini.

Menyoal isyarat, Ipon pun mengalaminya. Ia diminta mengambil honor tulisan-tulisan Tandi yang dimuat di koran terbitan Cirebon untuk dibagikan kepada anak-anak yatim. "Setelah saya ambil semua, baru kemarin saya selesai membagi-bagikan honor Pak Tandi kepada anak-anak yatim," ujarnya.

Masih banyak cerita lain, umumnya tentang kebaikan Tandi semasa hidup. Asep Salahudin menggarisbawahi, sosok Tandi selain sederhana juga pantas menjadi teladan bagi generasi muda. "Bayangkan, sudah usia 60-an Pak Tandi terus menulis tanpa henti hingga akhir hidupnya," kata Asep.

Sedikit catatan, esai dan karya fiksi Tandi telah dimuat di berbagai media Bandung, Cirebon, Jakarta, Lampung, Medan, dan lainnya. Beberapa skenarionya pernah ditayangkan di TVRI, RCTI, dan SCTV. Buku yang sudah terbit, novel Politik, Pelacur, dan Hehehe (2009), Seribu Sujud Seribu Masjid (2010), antologi Ini Medan Bung (2010), Akulah Medan (2010), Matahari Retak di Atas Cimanuk (2010), Bersyukurlah Wahai Muslimah (2010), novel Namaku Nairem (2012), kumpulan cerpen Sperma Air Mata (2012), dan Manuwara, Ibu Budaya Jawa-Sunda, buku pertama trilogi Cerbon Pegot (2013).

"Saya pernah bertanya kapan Pak Tandi berhenti menulis. Jawabnya, ia akan terus menulis agar kemampuannya sebagai karunia Allah terus terasah dan bermanfaat bagi orang lain," ucap Somari mengenang kata-kata sobat karibnya itu. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Jalan Raya Batujajar-Cimareme Macet Total

NGAMPRAH, TRIBUN - Ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) dan beberapa organisasi buruh lainnya melakukan aksi konvoi dengan berjalan kaki di ruas Jalan Raya Gadobangkong-Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Selasa (1/10).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, ribuan buruh tersebut berjalan kaki mulai dari kawasan Gadobangkong menunu Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KBB di Padalarang untuk menyampaikan aspirasi mereka yang menolak upah murah bagi para buruh.

Aksi ribuan buruh tersebut memacetkan ruas Jalan Raya Cimahi-Padalarang yang menjadi ruas jalan utama wilayah KBB dan Cimahi. Sebab, aksi konvoi berjalan kaki yang dilakukan para buruh memakan setengah badan jalan. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Cimahi menuju Padalarang terlibat dalam antrean panjang. Kemacetan parah pun tak dapat dihindarkan.

Selain Jalan Raya Padalarang, aksi konvoi buruh tersebut juga membuat arus lalu lintas di Jalan Raya Batujajar-Cimareme macet total sepanjang beberapa kilometer. Ratusan kendaraan terpaksa mengantre karena kepala antrean kendaraan terhalang oleh aksi konvoi buruh di wilayah Cimareme yang merupakan pertemuan Jalan Raya Batujajar dengan Jalan Padalarang. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Hari Kesaktian Pancasila, 8 Perwira Seskoad Naik Pangkat

BANDUNG, TRIBUN - Delapan perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lingkungan Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad) mendapat kenaikan pangkat. Prosesi kenaikan pangkat tersebut dilaksanakan usai upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Detasemen Mahasiswa (Denma) Seskoad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Selasa (1/10).

Komandan Seskoad, Mayjen Arief Rachman memimpin langsung pelantikan kenaikan pangkat tersebut. Hadir pada kesempatan itu, Pangdam V Brawijaya Mayjen Ediwan Prabowo, Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq, para perwira di jajaran Seskoad, dan para siswa Seskoad.

"Setiap prajurit memperoleh kesempatan untuk mendapat kenaikan pangkat dan atau jabatan. Jadi, setiap tahun, periode kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil memang sudah ditetapkan pada tanggal 1 April dan 1 Oktober setiap tahun. Termasuk para perwira yang baru kami lantik sekarang," ujar Arief di Seskoad.

Adapun kedelapan perwira di lingkungan Seskoad yang mendapat kenaikan pangkat dari Letkol menjadi Kolonel tersebut adalah Budi Eko Mulyono, M Zulkifli, Yusuf, Ahmad Sutarmadi, Tri Puji Wiranto, Parulian Marpaung, Harizal Salim, dan Husein Sagaf. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Buruh Blokir Jalan, Lalu Lintas Padalarang Lumpuh

Buruh Blokir Jalan, Lalu Lintas Padalarang Lumpuh

TRIBUN JABAR/M ZEZEN ZAINAL M

Ribuan kendaraan terjebak dalam kemacetan parah di ruas Jalan Raya Cimahi-Padalarang, Senin (1/10/2013). Ruas jalan ini macet parah akibat aksi konvoi yang dilakukan ribuan buruh di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

PADALARANG, TRIBUN - Puluhan ribu buruh dari berbagai organisasi buruh di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka yang menolak rencana penerapan upah murah bagi para buruh pada 2014 mendatang.

Puluhan ribu buruh tersebut datang secara bergelombang menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) di Jalan Raya Padalarang, Selasa (1/10). Ada yang datang dengan berjalan kaki, dan banyak pula yang datang dengan menggunakan sepeda motor dan mobil bak terbuka.

Setelah para buruh yang datang secara bergelombang berkumpul di satu titik yakni di kawasan Padalarang, tanpa diduga mereka memblokir Jalan Raya Padalarang yang merupakan ruas jalan utama yang menghubungkan Cimahi-Bandung-Cianjur dan Purwakarta.

Dampak aksi pemblokiran jalan tersebut langsung terlihat dalam hitungan menit. Arus lalu lintas di ruas jalan utama ini lumpuh total. Antrean kendaraan terlihat memanjang beberapa kilometer. Pasalnya, puluhan ribu buruh tersebut menutup seluruh badan jalan dari kedua arah baik dari arah Bandung menuju Cianjur maupun dari arah sebaliknya. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Buruh Baku Hantam Dengan Polisi

PADALARANG, TRIBUN - Puluhan ribu buruh dari berbagai organisasi buruh di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka yang menolak rencana penerapan upah murah bagi para buruh pada 2014 mendatang.

Puluhan ribu buruh tersebut datang secara bergelombang menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) di Jalan Raya Padalarang, Selasa (1/10). Ada yang datang dengan berjalan kaki, dan banyak pula yang datang dengan menggunakan sepeda motor dan mobil bak terbuka.

Aksi para buruh tersebut sempat diwarnai oleh aksi ricuh dan baku hantam antara buruh dengan polisi. Kericuhan dan aksi saling baku hantam terjadi sebanyak dua kali yakni pertama di wilayah Gadobangkong ketika para buruh konvoi dan kejadian kedua terjadi ketika para buruh berorasi di depan Gedung DPRD KBB di Padalarang.

Belum diketahui secara pasti penyebab kericuhan tersebut. Namun berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kericuhan dan aksi saling pukul tersebut terjadi akibat adanya provokasi dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Bahkan kericuhan melibatkan perwira polisi. Beberapa koordinator buruh pun tampak beberapa kali menenangkan massa yang nyaris terlibat kerusuhan massal dengan aparat kepolisian. (zam)


12.14 | 0 komentar | Read More

Lion Air Tolak Isi Pendingin Udara demi Pengiritan

MANADO, TRIBUN - Tidak berfungsinya AC dalam kabin pesawat Lion Air JT775 yang gagal berangkat Senin (30/9/2013) siang ternyata disebabkan  pihak manajemen yang tidak mau mengisi pendingin udara. Hal itu ditegaskan Manajer Bandara Samratulangi Haslin Panggabean kepada wartawan.

"Pesawat itu tidak ada kerusakan, hanya mereka lalai tidak melakukan charging pendingin ruangan pesawat," ujar Panggabean, Senin (30/9/2013) malam.

Menurut Panggabean, pihaknya telah memperingatkan Lion Air untuk tidak memaksakan penerbangan. Pihak bandara sebelumnya telah berkomunikasi dengan Lion Air perihal permintaan pengisian pendinginan udara dalam pesawat.

Permintaan itu sudah disampaikan oleh teknisi engine Lion Air ke bagian keuangannya. Namun, dengan alasan mau mengirit, permintaan tersebut tidak disetujui. Menurut informasi, harga untuk charging tersebut hanya Rp 1,1 juta.

"Masa hanya gara-gara mau mengirit Rp 1,1 juta, maskapai harus menanggung kerugian yang besar. Rugi materi, rugi nama, dan itu luar biasa. Mahal sekali jika dibandingkan dengan biaya charging yang hanya satu juta itu," tanda Panggabean.

Panggabean menyesalkan pihak Lion Air yang tidak menyiapkan mobil charging pendingin udara sejak pagi hari. Pihak otoritas bandara juga menyarankan untuk tidak memberangkatkan pesawat JT775 sebelum pintu darurat yang dipaksa dibuka diperbaiki.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 198 penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan rute Manado-Jakarta gagal berangkat gara-gara penumpang membuka paksa pintu darurat di bagian belakang. Insiden itu terjadi karena protes penumpang terhadap pendingin kabin yang tidak berfungsi diabaikan kru pesawat.

Bukannya mendengar keluhan penumpang, pilot malah membawa pesawat ke landasan pacu untuk siap terbang. Beruntung pintu darurat tersebut dipaksa dibuka sebelum pesawat mengudara. Tidak ada laporan adanya korban dalam peristiwa tersebut. (kompas.com)


12.14 | 0 komentar | Read More

Terus Berinovasi dengan Rasa Kue Gapit

Written By Unknown on Senin, 30 September 2013 | 12.14

Oleh Ida Romlah

"TADINYA saya hanya menjual kue gapit buatan orang lain," ucap Hj Kulsum mengawali perbincangan dengan Tribun, beberapa waktu lalu. Namun karena merasa tertantang untuk membikin sendiri, perempuan berusia 53 tahun itu pun memutuskan membuat sendiri kue gapit. Alhasil, kue gapit buatannya diminati banyak orang. Tidak hanya di Cirebon, tapi juga luar kota seperti Bandung, Sukabumi, dan Jakarta.

Kue gapit adalah kue tradisional Cirebon. Kue tersebut terbuat dari tepung tapioka, berbentuk mirip kue simping. Namun jika simping memiliki diameter lebih lebar dengan ketebalan yang sangat tipis, kue gapit berdiameter kecil dan lebih tebal. Meski demikian, kue gapit tetap renyah ketika dicicipi.

Nama gapit untuk kue tersebut konon diambil dari cara pembuatannya. Ya, adonan kue yang sudah jadi digapit oleh dua lempeng besi di atas pembakaran. Alhasil, adonan menjadi pipih, dan kue pun menjadi renyah ketika sudah matang.

Kulsum adalah satu di antara perajin kue gapit yang sampai saat ini masih bertahan. Dia mengawali usahanya pada 1995, setelah hanya sebatas menjual kue gapit buatan orang lain.

"Saya bawa kue gapit buatan orang sambil jualan kain di Tegalgubug dan Pasar Kanoman. Ternyata cukup banyak pelanggan yang suka hingga akhirnya saya memutuskan membuat sendiri kue gapit dan meninggalkan bisnis kain," ujarnya.

Dengan modal Rp 700.000 hasil pinjaman dari sebuah bank, Kulsum pun memberanikan diri memulai usahanya. Ia membeli seperangkat alat cetak kue gapit seharga Rp 600.000 dan sisanya dibelikan bahan-bahan kue yang dibutuhkan. Pembuatan kue pun dilakukan di rumahnya, Blok Babadan Barat, RT 04/04, Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.

Kulsum bercerita, pertama kali membuka usaha pembuatan kue gapit hanya dilakukannya sendiri dengan dibantu saudaranya. Sistem kerjanya pun masih kekeluargaan dan tidak setiap hari berproduksi.

Kini Kulsum sudah punya sekitar 30 pegawai. Lima hari dalam sepekan, para pegawai itu memproduksi kue gapit di bawah komando langsung Kulsum. Sekali produksi menghabiskan 4 kuintal tepung tapioka. Menjelang Lebaran, produksi meningkat menjadi 10 ton tepung tapioka sekali produksi.

Kue gapit buatan Kulsum dengan merek 24 itu kemudian dijual ke sejumlah toko oleh-oleh di Cirebon. Belakangan, pelanggan tidak hanya dari Cirebon, tapi juga dari luar kota seperti Bandung, Sukabumi, dan Jakarta. Untuk dalam kota, Kulsum mengirim langsung kue ke pelanggan. Untuk luar kota, pelangganlah yang mengambil sendiri kue gapit ke rumah produksi. "Kalau luar kota pembayarannya via rekening bank," kata ibu dua anak ini.

Kue gapit buatan Kulsum memiliki beragam rasa. Sebut saja rasa keju, udang keju, bawang, kencur, kacang bawang, manis wijen, manis cokelat, manis jahe, dan balado. Semua rasa itu dihasilkan melalui inovasi agar usaha kue gapit buatannya tetap bertahan di hati para pelanggannya. Maklum, perajin kue gapit di Cirebon tidak sedikit.

"Setiap waktu saya selalu berpikir kira-kira rasa apa yang harus disuguhkan ke pelanggan agar tak bikin bosan," ujar Kulsum.

Kue gapit buatan Kulsum ditawarkan dengan harga berbeda, tergantung rasanya. Gapit rasa keju, misalnya, Rp 24.000 per kilogram, sedangkan rasa udang keju, rasa bawang, rasa kencur, dan rasa  kacang bawang ditawarkan Rp 26.000 per kilogram. Kue gapit manis dibanderol Rp 28.000 per kilogram.

Di Cirebon, kue gapit buatan Kulsum bisa dengan mudah ditemukan di pusat oleh-oleh khas Cirebon di Pasar Pagi, Pasar Kanoman, Jalan Lemahwungkuk, dan Pasar Kue Plered. Kue tersebut dijajakan bersama kue lain yang menjadi oleh-oleh khas Kota Udang. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Buku Tabungan Bakal Raib dari Perbankan

JAKARTA, TRIBUN - Sebagian dari Anda barangkali jarang datang ke bank untuk melakukan transaksi. Bisa jadi, Anda juga jarang mencetak transaksi perbankan di buku tabungan Anda. Di era teknologi informasi sekarang ini, buku tabungan tampaknya tak lagi menjadi kebutuhan.

Buku tabungan alias passbook, sejatinya merupakan  buku yang mencantumkan jumlah simpanan nasabah pada rekening tabungan. Buku yang dikeluarkan bank ini harus diperlihatkan pada saat Anda melakukan transaksi perbankan, baik  penyetoran ataupun penarikan. Kini, sebagian dari Anda barangkali merasa tak lagi pernah menyentuh buku tabungan saat melakukan transaksi.

Maklum, sebagian besar masyarakat mulai memanfaatkan perkembangan teknologi yang memang disediakan bank. Tak perlu datang ke kantor bank, nasabah dengan mudah menarik ataupun menyetor dana melalui ATM yang tersebar di mana-mana.

Kini, hampir semua  bank memiliki sistem transaksi elektronik alias electronic banking (e-banking) yang kian memudahkan Anda melakukan transaksi. Alih-alih memberikan buku tabungan, ada juga bank yang menawarkan rekening koran yang dikirim kepada nasabah setiap bulan.

Para bankir yang dihubungi KONTAN sepakat, buku tabungan akan menghilang dari dunia perbankan. Kepala Divisi Corporate Communication Bank OCBC NISP, Tina Tjintawati, mengatakan, penggunaan buku tabungan mulai berkurang. Apalagi, OCBC NISP memberikan pilihan kepada nasabah apakah ingin menggunakan buku tabungan atau menggunakan  e-banking. Namun Tina tidak yakin kapan buku tabungan benar-benar tidak lagi digunakan di dunia perbankan.

Senada, Eko Budiwiyono, Direktur Utama Bank DKI, menilai  buku tabungan sudah tidak diperlukan lagi. Nasabah bisa mengakses catatan rekening melalui media elektronik.  "Di luar negeri sudah jarang ada buku tabungan," kata Eko.

Mulyatno Wibowo, Direktur Pemasaran Bank DKI, memperkirakan transaksi perbankan ke depan akan semakin tervisualisasi dalam bentuk elektronik. Dengan begitu, nasabah akan semakin mudah bertransaksi. Di sisi lain,  bank bisa semakin efisien lantaran biaya operasional berkurang.

Namun, Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia, Muhammad Ali, mengatakan buku tabungan masih menjadi kebutuhan. Sebab, tidak semua transaksi bisa dijalankan melalui e-banking. Salah satu transaksi yang belum terkaver e-banking adalah transaksi transfer uang dalam  nominal tertentu. "Pengajuan kredit juga masih membutuhkan buku tabungan," kata Ali.

Meski begitu, Ali  sepakat, ke depan, perbankan tak akan lagi membutuhkan buku tabungan. Ini tampak dari intensitas masyarakat mendatangi kantor bank yang  kian menurun. Bagaimana dengan Anda? Masih membutuhkan buku tabungan?  (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Gepeng dan Pedagang Asongan Minta Jaminan Hidup

BANDUNG, TRIBUN - Lebih dari 100 orang gelandangan pengemis (gepeng), pengamen dan pedagang asongan mendatangi Gedung DPRD Kota Bandung, Senin (30/9).

Para pengunjuk rasa membawa poster berbagai tulisan meminta agar anggota DPRD Kota Bandung memberikan jaminan hidup jangan hanya diberantas dan dijaring petugas Satuan Polisi Pamong Praja.

"Pemerintah seharusnya memberantas koruptor bukan memberantas pengemis dan pengamen di jalan. Kami hanya mencari naflkah untuk hidup," teriak para pengunjukrasa.

Para pengunjuk rasa minta kepastian jaminan hidup, pendidikan dan kesehatan jika tidak boleh mengamen dan mengemis. (*)


12.14 | 0 komentar | Read More

Ditemukan 5 Kantong Bahan Peledak di Lokasi Ledakan Bondowoso

BONDOWOSO, TRIBUN - Tim Laboratorim Forensik Polda Jawa Timur menemukan lima kantong plastik bahan peledak untuk petasan dengan berat 2,5 kilogram, di rumah korban ledakan maut Serka Agus Suryadi, warga Gang Malabar Kelurahan Kota Kulon Kecamatan Bondowoso, Bondowoso, Jawa Timur, Minggu (29/9/2013) kemarin.

"Barang bukti itu ditemukan Setelah dilakukan penyisiran oleh Tim Labfor," ujar Kapolres Bondowoso, Ajun Komisaris Besar Sabilul Alif, Senin (30/9/13) pagi.

Tim Labfor Polda Jawa Timur juga menemukan belerang, serta petasan yang siap edar. "Seluruh barang bukti yang ditemukan sudah kami amankan di mapolres, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut," imbuh Alif.

Pantauan Kompas.com di lapangan, hingga Senin pagi lokasi ledakan masih dijaga ketat dari Satbrimob Polda Jawa Timur, Polres Jember, dan TNI. Bahkan warga dari sejumlah wilayah, masih berdatangan ke lokasi ledakan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Minggu kemarin, sebuah ledakan besar terjadi di Rumah Serka Agus Suryadi, anggota Koramil Curahdami Bondowoso. Akibat peristiwa itu, dua orang tewas di tempat kejadian, yakni Agus Suryadi dan Tara.  (kompas.com)


12.14 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger